Daarul Qur'an Surakarta

Merasa iman sedang turun atau futur (malas ibadah) ??

Merasa iman sedang turun atau futur (malas ibadah) adalah fase yang sangat manusiawi. Iman itu sifatnya fluktuatif—bisa naik dan bisa turun. Kuncinya adalah bagaimana kita merespons saat grafik iman itu sedang di bawah agar tidak kebablasan menjadi kebiasaan.

Berikut adalah beberapa langkah praktis dan realistis untuk kembali menguatkan iman, menjaga sholat lima waktu, dan merutinkan murojaah:

1. Ubah Mindset: Ibadah sebagai Kebutuhan, Bukan Beban

  • Sholat sebagai jeda: Jangan anggap panggilan sholat sebagai interupsi yang memotong kesibukan, melainkan waktu istirahat dari urusan dunia yang menguras pikiran. Jadikan sholat sebagai waktu untuk reset mental.

  • Murojaah sebagai nutrisi batin: Mengulang hafalan Al-Qur’an bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Saat malas murojaah, ingatlah bahwa ayat-ayat yang terus diulang itulah yang kelak akan menjadi syafaat dan menjaga kejernihan hati di tengah stres pekerjaan atau rutinitas harian.

2. Strategi “Sedikit tapi Konsisten” (Istiqomah)

  • Mulai dari target terkecil: Rasa malas biasanya muncul karena kita membayangkan beban yang besar. Daripada menargetkan murojaah 1 juz tapi hanya bertahan sehari, lebih baik rutinkan 1 halaman atau bahkan 1/2 halaman secara disiplin setiap habis sholat fardhu. Target yang kecil membuat otak tidak merasa berat untuk mulai melangkah.

  • Sistem tempel (Habit Stacking): Gabungkan jadwal murojaah dengan kebiasaan yang sudah pasti kamu lakukan setiap hari. Misalnya, komitmen murojaah 10 menit setelah sholat Subuh, atau membaca beberapa ayat saat sedang di perjalanan.

3. Kondisikan Lingkungan dan Circle

  • Cari teman seperjuangan: Berada di lingkaran orang-orang yang memprioritaskan sholat jamaah dan akrab dengan Al-Qur’an akan sangat menular. Energi dan semangat mereka bisa menjadi “teguran” halus saat kemalasan mulai datang.

  • Singkirkan distraksi: Jauhkan smartphone segera setelah azan berkumandang atau saat masuk jadwal murojaah. Notifikasi media sosial adalah musuh utama dari fokus dan kekhusyuan.

4. Perhatikan Hal yang Mengganjal Hati (Maksiat)

Imam Waki’ pernah menasihati Imam Syafi’i bahwa ilmu (termasuk hafalan Al-Qur’an) adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada pelaku maksiat. Dosa kecil yang dibiarkan menumpuk, baik dari tontonan, obrolan, atau lisan, bisa membuat hati menjadi “berat” dan keras saat diajak taat.

5. Amunisi Utama: Doa Keteguhan Hati

Jangan hanya mengandalkan tekad dan kekuatan diri sendiri. Mintalah kekuatan dari Yang Maha Membolak-balikkan hati. Rutinkan doa ini dalam sujud atau setelah sholat:

“Ya muqallibal quluub, tsabbit qalbi ‘alaa diinik” (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *