Daarul Qur'an Surakarta

Berita

Mustain Nasoha Pimpinan Ponpes Darul Qur’an Surakarta, Kupas Etos Kerja Islami Ala Rasulullah SAW di Ommaya Group Sukoharjo

Mustain Nasoha Pimpinan Ponpes Darul Qur’an Surakarta, Kupas Etos Kerja Islami Ala Rasulullah SAW di Ommaya Group Sukoharjo Solo, 10 September 2025 — KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, seorang ulama, akademisi, dan tokoh pendidikan terkemuka di Jawa Tengah, mengisi pengajian dengan tema Etos Kerja Islami: Etos Kerja Rasulullah SAW yang diselenggarakan oleh Ommaya Group di Bawadabasantren Darul Mustaqim, Soegoharjo. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh karyawan Ommaya Group beserta asatidz dan santri Pondok Pesantren Darul Mustaqim, menciptakan suasana pembelajaran yang interaktif, penuh antusiasme, dan motivasi. Kehadiran KH. Mustain diharapkan dapat menjadi sumber inspirasi bagi peserta untuk meneladani etos kerja Rasulullah SAW dalam kehidupan profesional maupun pendidikan. Dalam pengajian tersebut, KH. Mustain memaparkan sembilan prinsip utama etos kerja Rasulullah SAW, yang menjadi landasan moral dan profesional bagi setiap individu dalam mencapai keberhasilan dunia dan akhirat. Penjabaran prinsip-prinsip tersebut bersumber dari Al-Qur’an, Hadis, dan kitab-kitab ulama klasik, antara lain: Kejujuran (al-ṣidq) menjadi fondasi utama etos kerja. Rasulullah SAW menegakkan kebenaran dalam setiap keputusan, tindakan, dan tutur kata. KH. Mustain menekankan bahwa kejujuran bukan sekadar dalam laporan atau interaksi profesional, tetapi juga dalam niat dan sikap hati. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi: “Sesungguhnya kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun ke surga” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam Al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari (no. 112), kejujuran disebut sebagai inti akhlak yang mendatangkan keberkahan. Disiplin (al-intizām) merupakan cerminan tanggung jawab dan konsistensi. KH. Mustain menjelaskan bagaimana Rasulullah SAW membagi waktu antara ibadah, dakwah, keluarga, dan kehidupan sosial secara tertib. Dalam Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali (Jilid 2, hlm. 45–47), ditekankan pentingnya manajemen waktu sebagai sarana menjaga kualitas amal dan produktivitas. Ketaatan kepada atasan (al-ta‘ah li-l-qiyādah) merupakan bagian dari akhlak profesional. Ketaatan ini tidak bersifat membabi buta, melainkan berpijak pada prinsip keadilan, integritas, dan etika kerja. Kitab Adab al-‘Āmil wa al-Muwazzaf karya Imam Ibn Muflih (hlm. 78–80) menegaskan bahwa seorang bawahan wajib menghormati pimpinan selama tidak memerintahkan hal yang bertentangan dengan syariat. Atasan memahami bawahan menekankan prinsip kepemimpinan Islami yang mengutamakan empati, komunikasi terbuka, dan kerja sama. KH. Mustain menekankan bahwa pimpinan yang adil mendorong terciptanya lingkungan kerja harmonis. Dalam Al-Khulafa’ al-Rashidun karya Imam Ibn Sa’ad (Vol. 3, hlm. 102), dicontohkan bagaimana Umar bin Khattab selalu berdialog dengan pegawai untuk memahami kesulitan mereka. Selalu ingin orang lain sukses (al-hamas li-najah al-ghayr). Rasulullah SAW mendorong keberhasilan sahabatnya, tidak hanya untuk dirinya sendiri. KH. Mustain menjelaskan bahwa prinsip ini penting untuk membangun tim yang solid. Dalam Riyadh al-Salihin karya Imam Nawawi (hlm. 205), saling mendorong kebaikan dan keberhasilan orang lain termasuk bagian dari akhlak mulia. Niat kerja karena memuliakan keluarga (niyyat al-‘amal li-izz al-‘a’ila). KH. Mustain menegaskan bahwa setiap pekerjaan seharusnya diniatkan untuk kebaikan diri, keluarga, dan masyarakat. Dalam Al-Minhaj al-Qawim fi Usul al-Hadith karya Imam Al-Suyuti (hlm. 56), niat yang ikhlas disebut sebagai inti dari setiap amal, termasuk pekerjaan. Cinta tanah air (al-hubb li-l-watan). Rasulullah SAW mengajarkan cinta terhadap masyarakat dan komunitas. KH. Mustain menjelaskan bahwa bekerja bukan hanya untuk kepentingan diri, tetapi juga untuk kemajuan masyarakat. Dalam Al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari (no. 125), kontribusi individu terhadap kepentingan umum disebut sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Shalat berjamaah (al-ṣalat al-jama‘ah) menjadi simbol disiplin spiritual yang mendukung karakter profesional. KH. Mustain menekankan bahwa ibadah teratur membentuk integritas, disiplin, dan kesadaran sosial. Shalat berjamaah dalam Fiqh al-Sunnah karya Imam Sayyid Sabiq (Jilid 1, hlm. 112) disebut sebagai sarana memperkuat ukhuwah dan tanggung jawab sosial. Berebut minta maaf dan tersenyum (al-samah wa al-ibtisamah). KH. Mustain menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis melalui sikap rendah hati. Rasulullah SAW selalu menebar senyum dan memaafkan kesalahan orang lain. Dalam Al-Adab al-Mufrad karya Imam Bukhari (no. 273), senyum dan keramahan disebut sebagai sedekah yang membangun suasana kerja produktif dan penuh kasih sayang. Melalui paparan ini, KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha mendorong seluruh peserta, baik karyawan Om Maya Group maupun asatidz dan santri Pondok Pesantren Darul Mustaqim, untuk meneladani etos kerja Rasulullah SAW. Beliau menekankan bahwa internalisasi nilai-nilai ini tidak hanya meningkatkan kualitas profesional, tetapi juga membentuk karakter Islami yang mulia, harmonis, dan bermanfaat bagi masyarakat. Mustain adalah tokoh yang memiliki kontribusi luas di bidang pendidikan, keagamaan, dan sosial. Beliau menjabat sebagai anggota Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam, dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said Surakarta, pengasuh sekaligus pimpinan Pondok Pesantren Darul Quran. Pengalaman beliau dalam membimbing santri dan mendampingi komunitas Islami menjadikan setiap paparan kaya dengan kajian ilmiah dan pengalaman praktis. Acara pengajian ini juga menghadirkan sesi interaktif, di mana peserta berbagi pengalaman, mengajukan pertanyaan terkait implementasi etos kerja Islami dalam dunia profesional maupun pendidikan pesantren, serta mendiskusikan solusi menghadapi tantangan kerja. Kegiatan ini menegaskan bahwa penerapan nilai-nilai Rasulullah SAW relevan tidak hanya di lingkungan pesantren, tetapi juga dalam konteks modern dan dunia bisnis. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha berharap seluruh peserta dapat menginternalisasi nilai-nilai ini sehingga menjadi individu yang produktif, berakhlak mulia, memiliki integritas tinggi, dan memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.  

Mustain Nasoha Pimpinan Ponpes Darul Qur’an Surakarta, Kupas Etos Kerja Islami Ala Rasulullah SAW di Ommaya Group Sukoharjo Read More »

KH. Mustain Nasoha, Pimpinan Ponpes Daarul Quran Surakarta: Penjarahan dan Perusakan Demo Haram

Surakarta, 1 September 2025 — Menyusul meningkatnya aksi demonstrasi di sejumlah daerah yang berujung ricuh, bahkan memicu penjarahan dan perusakan fasilitas umum, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta memberikan sikap tegas. Pimpinan Dewan Asatidz Pondok Pesantren Daarul Quran Surakarta, KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, menegaskan bahwa segala bentuk tindakan anarkis tersebut tidak dapat dibenarkan secara syariat Islam dan hukumnya jelas haram. Dalam wawancara khusus yang digelar pada Senin (1/9), ulama muda yang juga dikenal sebagai akademisi hukum Islam ini menekankan bahwa Islam hadir untuk menjaga ketertiban, keamanan, serta melindungi harta dan jiwa masyarakat. “Segala bentuk perusakan, baik menyasar harta pribadi, fasilitas umum, maupun penjarahan yang kerap menyertai aksi kericuhan, sama sekali tidak memiliki dasar syar’i. Itu perbuatan yang haram dan bertentangan dengan maqāṣid al-sharī‘ah, khususnya ḥifẓ al-māl (menjaga harta) dan ḥifẓ al-nās (menjaga jiwa manusia),” tegasnya. Larangan Merusak Fasilitas Umum Mustain menuturkan, Al-Qur’an secara konsisten melarang umat manusia melakukan kerusakan di muka bumi. Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 205 yang menggambarkan orang-orang yang gemar menimbulkan kerusakan dengan merusak tanam-tanaman dan keturunan. Demikian pula QS. Al-A‘raf ayat 56 yang menegaskan larangan membuat kerusakan setelah Allah memperbaiki bumi. “Pesan ini sangat jelas. Rasulullah ﷺ pun bersabda: lā ḍarar wa lā ḍirār – tidak boleh berbuat mudarat dan tidak boleh membalas mudarat dengan mudarat. Dalam kaidah fiqh ditegaskan: al-ḍarar yuzāl – setiap bentuk kerusakan wajib dihilangkan,” jelasnya. Pandangan ini, menurut KH. Mustain, didukung oleh para mufassir klasik. Imam al-Ṭabarī dalam Kitab Jāmi‘ al-Bayān menafsirkan bahwa istilah fasād mencakup segala bentuk perusakan, termasuk merusak harta benda masyarakat. Ibn Kathīr melalui Kitab Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm menegaskan bahwa larangan kerusakan meliputi maksiat, perampokan, dan tindakan merusak fasilitas. Al-Qurṭubī dalam Kitab al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān bahkan menekankan, menyia-nyiakan harta orang lain termasuk perbuatan terlarang. “Ulama besar seperti Imam al-Ghazali dalam Kitab Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Imam al-Syathibi dalam Kitab al-Muwāfaqāt, serta Ibnu Hajar al-Haitami dalam Kitab al-Zawājir ‘an Iqtirāf al-Kabā’ir sepakat bahwa merusak harta orang lain termasuk dosa besar. Itu bukan hanya pelanggaran sosial, tetapi juga melanggar ḥuqūq al-‘ibād atau hak-hak manusia,” terang KH. Mustain yang juga aktif sebagai dosen Ilmu Hukum di UIN Raden Mas Said Surakarta. Penjarahan Adalah Kezaliman Besar Selain perusakan, fenomena penjarahan yang kerap terjadi saat aksi massa juga mendapat sorotan tajam. KH. Mustain menyebut penjarahan sebagai bentuk kezaliman besar karena mengambil harta orang lain secara paksa. Ia mengutip QS. An-Nisa ayat 29: wa lā ta’kulū amwālakum bainakum bil-bāṭil – janganlah kalian saling memakan harta sesama dengan cara batil. “Hadits Rasulullah ﷺ sangat tegas: lā yaḥillu mālu imri’in muslimin illā biṭībi nafsin minhū – tidak halal harta seorang Muslim kecuali dengan kerelaannya. Jadi, tidak ada alasan apa pun yang bisa membenarkan penjarahan, apalagi dengan dalih aksi sosial atau demonstrasi,” ungkapnya. Dalam perspektif fiqh, menurut KH. Mustain, berlaku kaidah al-akl bil-bāṭil ḥarām – mengambil harta dengan cara batil hukumnya haram. “Bahkan, sesuatu yang haram tidak bisa berubah menjadi halal hanya karena niat atau kondisi tertentu. Kaidah fiqh menyebut: al-ḥarām lā yataḥawwal bil-niyyah,” tambahnya. Ia kemudian merujuk pada tafsir klasik. Imam al-Ṭabarī dalam Kitab Jāmi‘ al-Bayān menyebut bahwa pengambilan harta dengan paksa atau tipu daya termasuk jarīmah (tindak pidana). Ibn Kathīr dalam Kitab Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm menegaskan bahwa merampas hak orang lain merupakan dosa besar. Sementara al-Qurṭubī dalam Kitab al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān menegaskan bahwa pengambilan harta tanpa izin, baik dengan kekerasan maupun tekanan, adalah bentuk kezaliman. “Ulama seperti Imam al-Ghazali, Imam al-Syathibi, dan Ibnu Hajar al-Haitami semuanya menegaskan hal yang sama. Penjarahan jelas dosa besar. Siapa pun yang melakukannya di tengah aksi demo, berarti telah menanggung dosa besar di sisi Allah,” tegas KH. Mustain. Menjaga Harta dan Keamanan adalah Amanah Lebih jauh, KH. Mustain mengingatkan bahwa dalam keadaan genting sekalipun, umat Islam justru memiliki kewajiban untuk menjaga keamanan lingkungan dan melindungi harta bersama. Ia mengutip QS. An-Nisa ayat 58: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menunaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” “Menjaga keamanan dan harta adalah amanah. Jika ada yang membiarkan perusakan atau bahkan terlibat penjarahan, berarti ia telah berkhianat terhadap amanah Allah,” jelasnya. Hadits Nabi ﷺ juga menguatkan prinsip tersebut. Dalam riwayat Ahmad dan al-Baihaqi, disebutkan bahwa siapa saja yang dipercaya menjaga harta masyarakat maka ia adalah saksi atas amanah tersebut. Bahkan, Nabi menggambarkan umat Islam ibarat satu tubuh—jika salah satu bagian sakit, seluruh tubuh ikut merasakan penderitaan. “Artinya, perusakan dan penjarahan bukan hanya merugikan korban secara langsung, tetapi juga melukai masyarakat luas. Karena itu, menjaga keamanan adalah tanggung jawab kolektif (al-mas’ūliyyah al-jamā‘iyyah) seluruh warga, bukan hanya aparat,” papar KH. Mustain. Para mufassir dan fuqahā juga menekankan hal yang sama. Al-Ṭabarī dalam Kitab Jāmi‘ al-Bayān menyebut amanah mencakup harta dan keselamatan warga. Ibn Kathīr dalam Kitab Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm menambahkan menjaga keamanan kampung hukumnya wajib. Al-Qurṭubī dalam Kitab al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān bahkan menegaskan bahwa pemimpin yang lalai dalam menjaga keamanan telah mengkhianati perintah Allah. “Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ menilai menjaga harta masyarakat adalah amal wajib (farḍ kifāyah). Al-Syathibi menegaskan dalam al-Muwāfaqāt bahwa perlindungan jiwa, harta, dan kehormatan termasuk tujuan utama syariat. Ibnu Hajar al-Haitami pun menyebut kelalaian menjaga keamanan sebagai dosa besar,” tegasnya. Seruan Menahan Diri dan Menjaga Perdamaian Menutup pernyataannya, KH. Mustain mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama para penggerak aksi, untuk menahan diri dan tidak terprovokasi. Aspirasi, menurutnya, tetap boleh disampaikan, tetapi harus ditempuh melalui cara damai, dialogis, dan bermartabat. “Jangan sampai tujuan mulia untuk menyuarakan aspirasi justru rusak oleh tindakan segelintir oknum yang merusak fasilitas atau menjarah. Itu bukan hanya melanggar hukum negara, tetapi juga bertentangan dengan hukum Allah,” tegasnya. Mustain lalu menyerukan pesan damai: “Mari kita bersama-sama menjaga keamanan, menghormati hak orang lain, dan menyalurkan aspirasi secara beradab. Waṣ-ṣulḥu khair – perdamaian itu lebih baik. Semoga Allah senantiasa membimbing kita dalam menegakkan amanah dan menjaga harta serta jiwa masyarakat.”

KH. Mustain Nasoha, Pimpinan Ponpes Daarul Quran Surakarta: Penjarahan dan Perusakan Demo Haram Read More »

KH. Mustain Nasoha Sampaikan Khutbah Jumat dalam Bahasa Belanda: “Optimisme in de Islam: Sleutel tot Kracht en Vooruitgang”

Surakarta, 29 Agustus 2025 — Pondok Pesantren Darul Qur’an Surakarta mencatat sejarah baru pada Jumat (29/8). KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha, pengasuh pesantren tersebut, menyampaikan khutbah Jumat sepenuhnya dalam bahasa Belanda dengan tema “Optimisme in de Islam: Sleutel tot Kracht en Vooruitgang” (Optimisme dalam Islam: Kunci Kekuatan dan Kemajuan). Setelah Kyai membaca rukun Khutbah dalam Bahasa Arab, kemudian Kyai Mustain Nasoha membaca isi khutbah atau nasehat dalam Bahasa Belanda. Dalam khutbahnya, KH. Mustain mengajak jamaah untuk merenungi pentingnya sikap optimis dalam kehidupan beragama dan bermasyarakat. Ia membuka dengan pernyataan tegas: “De geschiedenis van de islam laat ons zien dat succes altijd begint met optimisme en sterk vertrouwen. Vanaf het begin groeide de islam door hoop en vastberadenheid, niet door wanhoop of angst.” (Sejarah Islam menunjukkan kepada kita bahwa keberhasilan selalu dimulai dengan optimisme dan keyakinan yang kuat. Sejak awal, Islam tumbuh melalui harapan dan keteguhan, bukan dengan keputusasaan atau ketakutan). Mustain kemudian mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW menanamkan optimisme kepada para sahabat dalam Perang Badar: “Kijk maar naar de Slag bij Badr. Toen stonden ongeveer 300 moslims tegenover duizenden vijanden uit Mekka… Maar de Profeet (vrede zij met hem) gaf de moslims moed en liet hen geloven in de hulp van Allah. Dat gevoel van optimisme werd de sleutel tot hun overwinning.” (Lihatlah Perang Badar. Saat itu sekitar 300 muslim berhadapan dengan ribuan musuh Quraisy. Namun Nabi SAW memberi semangat kepada para sahabat untuk yakin pada pertolongan Allah. Rasa optimisme itulah yang menjadi kunci kemenangan mereka). Mustain juga menyinggung keteladanan para nabi dalam menumbuhkan harapan. Ia menukil doa Nabi Yunus yang ditelan ikan besar, doa Nabi Zakaria yang optimis memohon keturunan di usia lanjut, serta keteguhan Nabi Ibrahim dan Nabi Nuh. “Dit alles laat zien: optimisme is een licht dat altijd in het hart van de gelovige moet blijven.” (Semua ini menunjukkan bahwa optimisme adalah cahaya yang selalu harus hidup di dalam hati seorang mukmin). Mengutip hadis qudsi dari riwayat Bukhari dan Muslim, KH. Mustain menegaskan pentingnya husnuzhan kepada Allah: “Allah zegt: Ik ben zoals Mijn dienaar over Mij denkt… Als hij naar Mij komt lopend, dan kom Ik naar hem rennend.” (Allah berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku… Jika ia datang kepada-Ku berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari). Mustain lalu menutup khutbahnya dengan penegasan bahwa seorang muslim tidak boleh berputus asa: “Wanhoop past niet bij een gelovige. Zoals Allah zegt in soera Al-Hijr, vers 56: ‘Waarlijk, niemand verliest de hoop op de genade van zijn Heer, behalve degenen die van het rechte pad zijn afgedwaald.’” (Keputusasaan tidak pantas bagi seorang mukmin. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hijr: 56: ‘Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat’). Dengan penuh semangat, KH. Mustain mengajak jamaah untuk membawa optimisme itu ke dalam kehidupan sehari-hari: mendidik anak, bekerja mencari nafkah, hingga dalam kepemimpinan. “Optimisme geeft kracht om vooruit te gaan — optimisme memberikan kekuatan untuk melangkah maju,” pungkasnya. Usai khutbah, KH. Mustain Nasoha menyampaikan harapan agar para santri Ponpes Darul Qur’an Surakarta dapat mengambil teladan dari pesan optimisme sekaligus termotivasi untuk menguasai bahasa asing sebagai bekal dakwah di masa depan. “Khutbah dengan bahasa Belanda ini bukan sekadar simbol, tetapi pesan bagi santri bahwa Islam harus bisa disuarakan dengan bahasa dunia. Jangan takut untuk belajar, jangan pesimis menghadapi kesulitan. Justru dengan optimisme dan kesungguhan, kalian akan mampu membawa pesan Al-Qur’an dan Islam rahmatan lil-‘alamin ke berbagai penjuru,” ujar KH. Mustain. Beliau menegaskan, santri Darul Qur’an Surakarta diharapkan tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga berani membuka diri pada perkembangan global. “Saya ingin santri-santri di sini bisa tampil percaya diri, menguasai ilmu, menguasai bahasa, dan tetap berpegang pada akhlak Islam. Optimisme yang saya sampaikan dalam khutbah tadi, semoga menjadi ruh perjuangan kalian,” pungkasnya.

KH. Mustain Nasoha Sampaikan Khutbah Jumat dalam Bahasa Belanda: “Optimisme in de Islam: Sleutel tot Kracht en Vooruitgang” Read More »

PENGASUH DQS KH. MUSTAIN NASOHA: MUTHAWWIF SEBAIKNYA MENGUASAI EMPAT MAZHAB FIQIH HAJI DAN UMRAH

Surakarta, 9 Juli 2025 — Dalam upaya meningkatkan kualitas dan profesionalisme pelayanan ibadah Haji dan Umrah, PT Firdaus Mulia Abadi (FMA) menyelenggarakan Sertifikasi dan Pelatihan Muthawwif dan Tour Leader selama dua hari, Selasa dan Rabu, 8–9 Juli 2025, bertempat di Kusuma Sahid Prince Hotel, Kota Surakarta. Acara ini diikuti Muthawwif dan Tour Leader FMA seluruh Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kompetensi keagamaan dan hard skill para calon muthawwif dan tour leader yang akan membimbing jamaah di Tanah Suci. Salah satu materi unggulan dalam pelatihan ini adalah Pembekalan Keagamaan oleh KH. Mustain Nasoha, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur’an Surakarta. Dalam pemaparannya, KH. Mustain Nasoha menegaskan bahwa seorang muthawwif idealnya menguasai fiqih Haji dan Umrah dari keempat mazhab utama (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali) agar mampu memberikan bimbingan yang solutif dan tepat sasaran bagi jamaah dari berbagai latar belakang. “Alhamdulillah, selain Fiqih dasar Haji dan Umroh, telah saya sampaikan 67 persoalan fiqih terkini seputar Haji dan Umrah, yang ditinjau dari sudut pandang empat mazhab dan dilengkapi dengan khilafiyah para ulama dalam setiap mazhab,” ujar KH. Mustain Nasoha di hadapan para peserta. Beberapa topik yang dibahas secara mendalam oleh Kyai antara lain: Hukum menyembelih damdi luar Tanah Haram (seperti di Indonesia) Hukum tawaf bagi perempuan yang sedang haidh Nafar Awal mulaipukul 00 malam 12 Dzulhijjah Shalat berjamaah di Masjidil Haram dari hotel( online ) Shalat berjamaah dengan posisi imam di belakang makmum Wukuf di Arafah yang tidak mengikuti tanggal resmi pemerintah Arab Saudi Dan lain sebagainya. Menurut KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, yang saat ini juga dipercaya sebagai Direktur Pusat Studi Konstitusi dan Hukum Islam Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta, terdapat tiga alasan mendasar yang menjadikan penguasaan fiqih empat mazhab sebagai kebutuhan esensial bagi setiap muthawwif dalam membimbing ibadah Haji dan Umrah. 1. Menghadapi Keragaman Latar Belakang Jamaah Setiap jamaah Haji dan Umrah datang dari berbagai negara dan daerah dengan tradisi keagamaan yang beragam. Sebagian mengikuti mazhab Syafi’i, lainnya mungkin berasal dari tradisi Hanafi, Maliki, atau Hanbali. Dengan menguasai fiqih empat mazhab, seorang muthawwif dapat memberikan bimbingan yang sesuai dengan keyakinan fiqih jamaah, tanpa memaksakan satu pendapat dan tetap menjaga kenyamanan serta kekhusyukan ibadah mereka. Sebagaimana nasehat Sayyidina Umar bin Khattab “تَفَقَّهُوا قَبْلَ أَنْ تُسَوَّدُوا” (Belajarlah fiqih sebelum kalian memimpin) Menjadi Solutif dalam Situasi Darurat dan Masalah Fiqih Lapangan Di Tanah Suci seringkali muncul kondisi darurat yang tidak ditemukan di buku panduan umum, seperti: haid saat akan tawaf, sakit saat wukuf, keterlambatan saat nafar awal, dsb. Dalam kondisi seperti itu, pemahaman terhadap pendapat-pendapat mazhab yang berbeda dapat menjadi solusi syar’i yang sah. Muthawwif yang hanya memahami satu mazhab akan mudah buntu, sedangkan yang menguasai empat mazhab akan lebih fleksibel dan siap memberi alternatif yang kuat secara dalil. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “من ضاق عليه الأمر فليأخذ بقول الإمام مالك” (Jika engkau kesulitan dalam masalah, ambillah pendapat Imam Malik). Menumbuhkan Sikap Toleransi dan Hilangnya Fanatisme Mazhab Belajar empat mazhab melatih muthawwif untuk melihat bahwa perbedaan dalam fiqih adalah rahmat, bukan konflik. Ini membentuk karakter pemimpin rombongan yang bijak, inklusif, dan tidak mudah menyalahkan jamaah hanya karena berbeda praktik. Sikap seperti ini sangat penting dalam memelihara harmoni dan ukhuwah di tengah jamaah yang terdiri dari latar belakang keilmuan yang beragam. Imam al-Qarafi (Maliki) berkata: “الاختلاف في الفروع ليس من باب التفرقة، بل من باب التوسعة.” Artinya : Perbedaan dalam masalah cabang fiqih bukanlah bentuk perpecahan, melainkan ruang keluasan dari Allah. Pelatihan ini diapresiasi tinggi oleh Direktur Utama PT Firdaus Mulia Abadi, Bapak Haji Tri Winarto, S.Si, yang turut hadir membuka kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, beliau menyatakan: “Kami berkomitmen mencetak muthawwif yang tidak hanya paham teknis lapangan, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu keagamaan yang representatif. Bekal pemahaman lintas mazhab adalah syarat mutlak agar bimbingan kepada jamaah tidak kaku dan penuh empati. Semoga pelatihan ini menjadi bagian dari ikhtiar kolektif kami dalam memuliakan tamu Allah.” Haji Tri Winarto juga berharap agar program ini menjadi model pelatihan nasional yang bisa diadopsi oleh biro perjalanan Haji dan Umrah lainnya di Indonesia. “Kami ingin menjadi pelopor pembinaan muthawwif berbasis ilmu dan adab. Ini bukan hanya soal pelayanan, tetapi juga dakwah dalam bentuk yang paling nyata,” tambahnya. Kegiatan ini diikuti oleh puluhan peserta dari berbagai cabang FMA di seluruh Indonesia dan diakhiri dengan uji kompetensi serta penyerahan sertifikat resmi. Semoga kegiatan ini membawa keberkahan dan mendorong peningkatan kualitas pelayanan ibadah umat Islam di Tanah Suci. Amin.  

PENGASUH DQS KH. MUSTAIN NASOHA: MUTHAWWIF SEBAIKNYA MENGUASAI EMPAT MAZHAB FIQIH HAJI DAN UMRAH Read More »

6 KUNCI KESUKSESAN SANTRI BELAJAR

Dalam berbagai kesempatan, KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha menegaskan bahwa kesuksesan santri tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga ditopang oleh adab, niat, dan visi hidup yang kuat. Berikut ini adalah 6 kunci kesuksesan santri yang sering beliau sampaikan, dilengkapi dengan rujukan dari para ulama agar menjadi pegangan kokoh dalam menuntut ilmu: Taat pada Kyai Taat kepada guru adalah pintu keberkahan ilmu. KH. Mustain Nasoha menekankan bahwa keberhasilan santri sangat tergantung pada seberapa besar penghormatannya kepada kyai. Imam Malik pernah berkata: “Aku melihat Imam Syafi’i dan langsung mencintainya karena akhlaknya terhadap gurunya, bukan hanya karena kecerdasannya.” (Adab al-Muta’allim, Imam al-Zarnuji) Imam al-Zarnuji dalam Ta’lim al-Muta’allim menjelaskan bahwa keberhasilan seorang murid berasal dari taat dan hormat kepada guru, karena guru adalah perantara sampainya ilmu dari Allah kepada hamba. Niat Karena Allah Ilmu hanya bermanfaat bila diniatkan karena Allah. KH. Mustain selalu mengingatkan agar niat santri murni untuk mencari ridha-Nya. Imam al-Ghazali berkata di Kitab Ihya’ Ulum al-Din: “Ilmu yang tidak diniatkan karena Allah adalah petaka, bukan anugerah.” Dengan niat yang lurus, ilmu akan menjadi cahaya, penuntun amal, dan bekal menuju kehidupan akhirat. Ingin Menjadi Penerus Kyai Santri sejati tidak hanya ingin belajar untuk dirinya sendiri, tapi bercita-cita menjadi penerus perjuangan guru dan ulama dalam menjaga agama dan masyarakat. Imam Nawawi dalam Muqaddimah Syarh al-Muhadzdzab berkata: “Tujuan utama dari mencari ilmu adalah mengamalkannya dan mengajarkannya, bukan hanya untuk prestise atau kedudukan.” Mustain menyebut bahwa santri harus bercita-cita melanjutkan nilai dan semangat perjuangan para kyai, bukan sekadar mengambil posisi dan kedudukan. Sabar dalam Proses Ilmu tidak bisa diraih dengan instan. Kesabaran adalah sifat wajib bagi seorang penuntut ilmu. Imam Syafi’i berkata: “Kamu tak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara: kecerdasan, semangat, kesabaran, bekal biaya, bimbingan guru, dan waktu yang panjang.” (Diwan al-Imam al-Syafi’i) Mustain menegaskan bahwa santri yang sabar akan memperoleh kedalaman ilmu dan keluasan hikmah yang tidak didapat oleh mereka yang tergesa-gesa. Hidup Sederhana dan Zuhud Kesederhanaan menjadikan hati lapang dan bersih dari penyakit cinta dunia, sehingga lebih mudah menerima ilmu dan hidayah. Sufyan al-Tsauri berkata: “Ilmu tidak akan diberikan kepada orang yang mencintai dunia.” (Hilyah al-Awliya’, Abu Nu’aim al-Ashbahani) Mustain selalu mengajarkan kepada santri bahwa zuhud bukan berarti anti-harta, tapi menjadikan dunia di tangan, bukan di hati. Aktif Mengamalkan Ilmu Ilmu tanpa amal adalah bagaikan pohon tanpa buah. Santri harus menjadikan ilmu sebagai alat memperbaiki diri dan masyarakat. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Orang yang tidak mengamalkan ilmunya, maka ilmunya akan hilang dan tidak akan tumbuh.” (Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, Ibn Jama‘ah) Mustain sering menyampaikan bahwa ilmu yang diamalkan akan membuka pintu keberkahan, sementara ilmu yang disimpan akan padam. Enam kunci ini bukan sekadar teori, tetapi jalan hidup santri sejati. KH. Mustain Nasoha mewariskan nilai-nilai luhur pesantren yang bertumpu pada adab, keikhlasan, dan cita-cita mulia. Dengan bekal ini, santri akan mampu menghadapi zaman, menerangi masyarakat, dan menjadi penerus estafet keilmuan para ulama. NB : Disampaikan saat KH. Ahmad Muhamad Mustain Nasoha mengajar Kitab Ihya Ulumuddin di Pondok Pesantren Darul Quran Surakarta  

6 KUNCI KESUKSESAN SANTRI BELAJAR Read More »

Wisuda Tahfizh Daarul Qur’an Surakarta Ke -17

Surakarta, 19 Juni 2025 — Suasana penuh haru dan kebanggaan menyelimuti aula utama Hotel The Alana Solo, saat Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Surakarta menggelar Wisuda Tahfizh angkatan ke-17, Kamis (19/6/2025). Sebanyak 25 santri berhasil diwisuda setelah menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an, sebagai bentuk pencapaian spiritual dan intelektual selama menempuh pendidikan tahfizh di pesantren tersebut. Acara ini menjadi semakin istimewa dengan kehadiran Wakil Gubernur Jawa Tengah, Ketua Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Surakarta, tokoh-tokoh masyarakat, wali santri, dan para alumni. Kehadiran para pejabat tinggi ini menjadi bukti dukungan pemerintah terhadap pendidikan Al-Qur’an dan peran penting pesantren dalam membangun karakter generasi bangsa. Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Jawa Tengah menyampaikan apresiasi mendalam terhadap prestasi para santri yang telah mengkhatamkan hafalan 30 juz Al-Qur’an.“Menghafal Al-Qur’an adalah amanah besar. Anak-anak ini adalah penjaga cahaya peradaban. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bangga dan mendukung penuh para penghafal Qur’an,” ujarnya. Sebagai bentuk apresiasi konkret, Wakil Gubernur juga memberikan beasiswa sebesar Rp 1.000.000 kepada setiap santri yang telah khatam 30 juz, dengan total beasiswa senilai Rp 25.000.000 untuk 25 wisudawan. Beasiswa ini diharapkan menjadi motivasi dan dukungan moral bagi para santri untuk terus menjaga hafalan dan berkontribusi positif di tengah masyarakat. Sementara itu, Kepala Kemenag Surakarta mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan simbol keberhasilan lembaga pendidikan Islam dalam mencetak generasi unggul dan religius.“Wisuda ini bukan hanya seremoni, tapi tonggak sejarah pendidikan karakter berbasis Al-Qur’an. Santri yang menghafal adalah aset bangsa,” tegasnya. Prosesi wisuda berlangsung dengan khidmat. Satu per satu santri naik ke panggung untuk menerima piagam, sertifikat, dan kalung penghargaan. Tak hanya itu, orang tua santri juga mendapat mahkota simbolis sebagai bentuk penghormatan atas peran mereka dalam mendidik anak menjadi hafizh dan hafizhah Al-Qur’an. Dalam sambutan, Pimpinan Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Surakarta, KH. Adib Ajiputra, MM , menyampaikan rasa bangga atas dedikasi para santri. “Anak-anak ini adalah pejuang Al-Qur’an. Mereka telah membuktikan bahwa dengan kesungguhan, kedisiplinan, dan bimbingan yang tepat, usia muda bukan halangan untuk menjadi penghafal Qur’an sejati,” ungkapnya. Rangkaian acara juga dimeriahkan dengan penampilan tilawah santri, sambutan wali santri, penayangan video perjalanan tahfizh, tari saman, hadrah santri dll yang bertujuan membangun kedekatan emosional santri dengan Al-Qur’an melalui metode menyalin ayat per ayat. Dengan terselenggaranya acara ini, Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Surakarta kembali menegaskan perannya sebagai salah satu lembaga pendidikan Al-Qur’an terdepan di wilayah Solo Raya yang konsisten mencetak generasi Qur’ani, berkarakter, dan siap berkiprah untuk umat.

Wisuda Tahfizh Daarul Qur’an Surakarta Ke -17 Read More »

MOU Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Surakarta dengan Pesantren Sereh Sumeleh Rutan Kelas 1 Surakarta

#Berita Yayasan Daarul Qur’an Surakarta Menindaklanjuti MOU antara Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Surakarta dengan Pesantren Sereh Sumeleh Rutan Kelas 1 Surakarta maka hari ini awal pembelajaran mempelajari al Qur’an yang diampu oleh ustadz Luthfi Akbar, S.Ag (Ustadz Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Surakarta) terhadap Binaan LP Kelas 1 Surakarta. Tampak santri warga binaan serius dan menyimak dengan sungguh-sungguh. ___________________ Dibuka Penerimaan Santri Baru (PSB) Jenjang SMP dan SMA Sains TA. 2025/2026 ‪‪‪+62 823-1307-4044‬‬‬ (Usth. Silmi) Gelombang II (Bulan April – kuota terpenuhi) Daftarkan Segera, Kesempatan Terbatas !! _______________________________ Pesantrennya Penghafal Al-Qur’an Berprestasi Mengasuh dengan Hati, Mendidik dengan Keteladanan Jgn lupa follow, like & share MEDSOS DQS Website : ‪‪www.pesantrentahfizhdqs.id‬‬ Instagram : dqsofficial Tiktok : dqs.official FB : DaarulQur’an Surakarta #banggaDQS #daarulquran #surakarta #daqu #santri #santriwati #santridaarulquran #santrikeren #karanganyar #colomadu #pesantren

MOU Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Surakarta dengan Pesantren Sereh Sumeleh Rutan Kelas 1 Surakarta Read More »

Tiga Santri SMA Sains Daarul Qur’an Karanganyar diterima di PTN jalur SNBT

#Berita SMA Sains Daarul Qur’an Karanganyar di bawah Yayasan Daarul Qur’an Surakarta Alhamdulillah MasyaAllah Tabarokallah Selamat dan Sukses atas Tiga Santri SMA Sains yang diterima di PTN jalur SNBT 1. Rahel Lia Anas Tasa politeknik negeri Jember cabang Ngawi… D4 Manajemen Agribisnis 2. Rizqi Zulfan Khamid Universitas Tidar Magelang, program studi Manajemen 3. Devista Intan Aulia Politeknik negeri jember Program studi manajemen pemasaran internasional (sarjana terapan) Semoga sukses terus dilangkah berikutnya 🤲🏻 ___________________ Dibuka Penerimaan Santri Baru (PSB) Jenjang SMP dan SMA Sains TA. 2025/2026 ‪‪‪+62 823-1307-4044‬‬‬ (Usth. Silmi) Gelombang II (Bulan April – kuota terpenuhi) Daftarkan Segera, Kesempatan Terbatas !! _______________________________ Pesantrennya Penghafal Al-Qur’an Berprestasi Mengasuh dengan Hati, Mendidik dengan Keteladanan Jgn lupa follow, like & share MEDSOS DQS Website : ‪‪www.pesantrentahfizhdqs.id‬‬ Instagram : dqsofficial Tiktok : dqs.official FB : DaarulQur’an Surakarta #banggaDQS #daarulquran #surakarta #daqu #santri #santriwati #santridaarulquran #santrikeren #karanganyar #colomadu #pesantren

Tiga Santri SMA Sains Daarul Qur’an Karanganyar diterima di PTN jalur SNBT Read More »

Santri Khatam 30 Juz

Bismillah Walhamdulillah 1 Mujahidah Pesantren Tahfizh Daarul Qur’an Surakarta telah menyelesaikan setoran hafalannya 30 Juz, yaitu : Safira Dina Hasnawati bin Bapak Drs. Asy’ari dan Ibu Sri Sugiarwati, S.E., M.M asal Klaten kelas X SMA Sains khatam pada Ahad, 18 Mei 2025 Semoga Allah meridhoi hafalan kami, Allah mudahkan hafalan kami, Allah lancarkan hafalan kami, Allah kuatkan hafalan kami hingga bertemu Allah SWT yang merupakan kenikmatan yang tiada bandingannya. Menyematkan mahkota bagi orang tua kami kelak di surgaNya. Aamiin yaa Robbal ‘alamin

Santri Khatam 30 Juz Read More »

SMP dan Pesantren melakukan bakti sosial

Dalam usianya yang menginjak 17 tahun Daarul Qur’an Surakarta melalui unit SMP dan Pesantren melakukan bakti sosial di Bandung Lor, Beji, Andong, Boyolali. Program ini dilaksanakan dalam rangka ucapan terimakasih kepada Wilayah basis santri aktif dan alumni yang sudah belajar di Daarul Qur’an Surakarta. Selain itu program ini sebagai wujud rasa kemanusiaan antar sesama manusia, dengan tujuan untuk mempererat tali persaudaraan, meningkatkan kepedulian, dan membantu meringankan beban masyarakat yang membutuhkan. Bakti Sosial ini ada dua macam, yaitu pemeriksaan kesehatan gratis, terdiri dari cek tensi, gula darah, kolesterol serta akupuntur. Yang kedua adalah pembagian sembako gratis kepada warga sekitar lokasi baksos. “Suksesnya kegiatan ini tidak lepas dari kerjasama dengan DPC HAKTI Wilayah Boyolali dan wali santri serta komite. Oleh karena itu kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu, terutama kepada dermawan dan dermawati yang telah ikhlas membantu kegiatan ini,” Ujar Kepala Sekolah Bapak Nur Harihadi, S.Pd., M.Pd Selain itu bapak kepala Sekolah, dalam sambutannya menyampaikan “Kami tidak bergerak sendiri, tapi kami melibatkan semua pihak, terutama santri-santri dalam perencanaan, pengumpulan bahan pokok, serta teknis lapangan. Kami ingin memberikan pelajaran terkait lapangan kepada santri-santri, supaya lebih mandiri, bekerjasama dan inovatif.” Harapan dari masyarakat sekitar, kegiatan ini tidak hanya satu kali ini saja, akan tetapi bisa rutinan terjadwal supaya kemanfaatannya lebih bisa dirasakan.  

SMP dan Pesantren melakukan bakti sosial Read More »